• Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, Sesungguhnya semua kekuasaan hanya milik Allah SWT. Sehingga puji dan syukur wajib kita panjatkan hanya kepadaNya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosulloh Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan keteguhan hati untuk meneladani beliau hingga akhir hayat nanti, Amin...!.

    Atas Rahmat dan Karunia dari Allah SWT, akhirnya Situs ini dapat kami hadirkan.

    Semoga dengan media ini, dapat memberikan informasi serta mempererat tali persaudaraan dan menjaga silaturahmi antar pihak sekolah, orang tua siswa, siswa dan alumni SIT AZZAHRA, guna membangun generasi yang beriman, mandiri, cerdas dan kreatif.

    Wasalam,

Sang Bunda dan Sang Bayi

dakwatuna.com – Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang menggerakkanku menulis kolom ini.

Renungan ini mengantarkanku pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka (lihat gambar).

Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASI nya dan menemaninya sampai sang bayi pun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa? Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.

Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia memfasilitasi, untuk menjadikan anak didik menjadi semakin cerdas.

Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa . Dalam hatinya dia berkata “Suatu hari anakku pasti akan bisa!”. Rasanya tak ada seorang pun ibu yang putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata,”Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…”Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang baru dicapai anak didik kita?

Sosok sang ibu sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang ibu dan orang-orang di sekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan lingkungan yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?

Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk tahapan usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah ‘makanan terbaik’ untuknya sesuai tahapannya.

Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa haus sang bunda akan informasi yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi pembelajar sejati. Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.

Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh imunisasi. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih terjaga kesehatannya membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagaimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?

Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendoakan kebaikan untuk setiap anak didik kita?

Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita pahami. Renungkanlah…

Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada sang bayi yang ternyata memiliki profil pembelajar terbaik.

Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa tinggi rasa ingin tahunya. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu? Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. Ibnu Abbas ra pernah ditanya seorang sahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau: “Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya”Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….

Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya? Dia tidak mengenal kata putus asa! Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang baru kita capai saat ini selaku pembelajar?

Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah miniatur kreativitas. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang di luar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. Buatlah lebih baik, tidak asal beda. Make it better, not just different.

Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.. Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . Fa’tabiruu yaa ulil abshaar.

:: Tanamkan Pemahaman Sanitasi Sejak Dini

20091211131655.jpgRepublika.co.id–Pengamat Lingkungan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Suharta mengatakan pemahaman sanitasi bersih harus dibiasakan sejak usia dini seperti buang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan, dan cuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah beraktifitas.

“Pemahaman mengenai sanitasi sangat penting bagi anak-anak untuk mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat agar kebiasaan tersebut terbawa hingga dewasa baik di lingkungan keluarga dan masyarakat,” katanya di Medan, Jumat (12/12).
Suharta menilai, sanitasi yang bersih dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama dalam menurunkan angka penyakit diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui air dan lingkungan.
Masalah sanitasi buruk biasanya tertular dari tinja manusia atau binatang, sisa bahan buangan padat, air bahan buangan domestik seperti cucian, air seni, bahan buangan mandi, limbah industri dan bahan buangan pertanian.
Sanitasi memiliki hubungan yang erat dengan air, tanpa ketersediaan air yang mencukupi kondisi sanitasi akan berdampak buruk terutama terhadap kesehatan, sebaliknya dengan kondisi sanitasi yang buruk akan berpengaruh terhadap kualitas sumber air.
“Seperti air permukaan (sungai) dan air tanah dangkal (sumur gali) yang pada akhirnya juga berdampak pada kesehatan masyarakat,” katanya.
Berdasarkan penelitian, ditemukan 80 persen penyakit menular bersumber dari pengelolahan sanitasi buruk yang tercemar kuman maupun bakteri penyebab penyakit.
Mencanangkan mengenai sanitasi ini lebih baik difokuskan pada anak-anak usia SD supaya mereka mengetahui pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.
Anak-anak harus diberi bimbingan mengenai kebersihan. Dengan pemahaman tersebut dapat memutus mata rantai penyebaran kuman dan mencegah mereka dari penyakit, kata Suharta yang juga Ketua Pusat Pendidikan dan Kependudukan Lingkungan Hidup Unimed.

:: Yuk, Bantu Anak Atasi Stress

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami stress. Hal-hal yang terjadi di sekolah atau kehidupan sosialnya kadang-kadang dapat menciptakan tekanan yang luar biasa untuk anak-anak. Anda tidak dapat melindungi anak-anak Anda dari stress, tentu saja, karena hidup adalah proses. Yang bisa Anda lakukan, adalah membantu mereka mengembangkan cara-cara sehat untuk mengatasi stress dan memecahkan masalah-masalah sehari-hari.

D’Arcy Lyness PhD, psikolog dari Kids Health Amerika Serikat, menyatakan anak kerap susah memulai percakapan tentang apa yang mengganggu mereka. Bahkan, berdasar penelitian yang dilakukannya, anak-anak kerap tidak ingin orangtua mereka tahu masalah mereka dan mengulurkan tangan dan membantu mengatasi masalah mereka.

Berikut adalah beberapa ide Lyness mengenai apa yang bisa dilakukan orang tua bila “membaca” stress mulai hinggap pada anak mereka:

Penuh Perhatian. Katakan kepada anak Anda ketika Anda melihat bahwa ada sesuatu yang mengganggu dia. Awali dengan kalimat “pancingan” yang membuat sang anak bercerita. Misalnya, “Sepertinya kau masih marah tentang apa yang terjadi di taman bermain?” Hindari pertanyaan yang terdengar seperti tuduhan, semisal, “Kau marah ya, dengan apa yang terjadi tadi?” Berempatilah dan tunjukkan Anda peduli dan ingin mengerti.

Dengarkan anak Anda. Mintalah anak Anda memberi tahu Anda apa yang salah. Dengarkan dengan penuh perhatian dan tenang. Menghindari dorongan untuk menghakimi, menyalahkan, kuliah, atau mengatakan apa yang Anda pikirkan anak Anda harus dilakukan sebagai gantinya. Cobalah untuk mendapatkan seluruh cerita dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti “Dan kemudian apa yang terjadi?” Luangkan waktu Anda. Dan biarkan anak Anda mengambil waktunya juga untuk bercerita pada Anda.

Tunjukkan empati dengan komentar singkat. Sebagai contoh, Anda bisa mengatakan, “Itu pasti sangat menjengkelkan,” “Tak heran kamu merasa marah ketika mereka melarangmu bergabung dalam permainan,” atau “Itu pasti tampak tidak adil bagimu.” Melakukan hal ini menunjukkan bahwa Anda memahami apa yang anak Anda rasakan dan dia merasa didukung pada saat hatinya galau.

Bantu anak mengidentifikasi perasaannya. Banyak anak-anak belum memiliki kata-kata untuk perasaan mereka. Jika anak Anda tampaknya marah atau frustrasi, gunakan kata-kata untuk membantu dia atau dia belajar untuk mengidentifikasi nama emosi itu. Menempatkan perasaan dalam kata-kata membantu anak-anak berkomunikasi dan mengembangkan kesadaran emosional – kemampuan untuk mengenali keadaan emosional mereka sendiri. Kemudian, bantu anak Anda memikirkan hal-hal yang harus dilakukan. Dorong anak Anda untuk memikirkan beberapa ide untuk keluar dari rasa beratnya.

Batasi stress jika memungkinkan. Jika situasi tertentu yang menyebabkan stress, melihat apakah ada cara untuk mengubah keadaan. Misalnya, jika dia merasa terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan dari sekolahnya, Anda bisa membantu dengan mengajarkan anak untuk tidak melakukannya dalam satu waktu. Ajak anak untuk mencari suasana beda, misalnya belajar di taman, atau mengerjakannya dengan ditemani teh manis atau kudapan kreasi Anda.

Bersabar. Sebagai orang tua, sakit rasanya melihat anak Anda tidak bahagia atau tertekan. Tapi cobalah untuk menahan keinginan untuk memperbaiki setiap masalah. Sebaliknya, fokus pada membantu anak Anda, perlahan tapi pasti, jadilah bagian dari solusi dengan menunjukkan empati, menaruh perasaan dalam kata-kata, tenang ketika dibutuhkan, dan membukakan jalan bagi anak bangkit kembali untuk mencoba lagi.

Orangtua tidak dapat menyelesaikan setiap masalah anak-anak dalam perjalanannya mengarungi samudera kehidupan. Tapi dengan mengajarkan strategi mengatasinya, Anda telah mempersiapkan anak-anak Anda untuk mengelola tekanan yang datang di masa depan.

Sumber Berita: kidshealth